Kamis, 09 Juni 2011

DONGENG


Pada suatu waktu, hidup seorang raja yang mempunyai beberapa anak gadis yang cantik, tetapi anak gadisnya yang paling bungsulah yang paling cantik. Ia memiliki wajah yang sangat cantik dan selalu terlihat bercahaya. Ia bernama Mary. Di dekat istana raja terdapat hutan yang luas serta lebat dan di bawah satu pohon limau yang sudah tua ada sebuah sumur. Suatu hari yang panas, Putri Mary pergi bermain menuju hutan dan duduk di tepi pancuran yang airnya sangat dingin. Ketika sudah bosan sang Putri mengambil sebuah bola emas kemudian melemparkannya tinggi-tinggi lalu ia tangkap kembali. Bermain lempar bola adalah mainan kegemarannya.
Namun, suatu ketika bola emas sang putri tidak bisa ditangkapnya. Bola itu kemudian jatuh ke tanah dan menggelinding ke arah telaga, mata sang putri terus melihat arah bola emasnya, bola terus bergulir hingga akhirnya lenyap di telaga yang dalam,  sampai dasar telaga itu pun tak terlihat. Sang Putri pun mulai menangis. Semakin lama tangisannya makin keras. Ketika ia masih menangis, terdengar suara seseorang berbicara padanya,”Apa yang membuatmu bersedih tuan putri? Tangisan tuan Putri sangat membuat saya terharu… Sang Putri melihat ke sekeliling mencari darimana arah suara tersebut, ia hanya melihat seekor katak besar dengan muka yang jelek di permukaan air. “Oh… apakah engkau yang tadi berbicara katak? Aku menangis karena bola emasku jatuh ke dalam telaga”. “Berhentilah menangis”, kata sang katak. Aku bisa membantumu mengambil bola emasmu, tapi apakah yang akan kau berikan padaku nanti?”, lanjut sang katak.
“Apapun yang kau minta akan ku berikan, perhiasan dan mutiaraku, bahkan aku akan berikan mahkota emas yang aku pakai ini”, kata sang putri. Sang katak menjawab, “aku tidak mau perhiasan, mutiara bahkan mahkota emasmu, tapi aku ingin kau mau menjadi teman pasanganku dan mendampingimu makan, minum dan menemanimu tidur. Jika kau berjanji memenuhi semua keinginanku, aku akan mengambilkan bola emasmu kembali”, kata sang katak. “Baik, aku janji akan memenuhi semua keinginanmu jika kau berhasil membawa bola emasku kembali.” Sang putri berpikir, bagaimana mungkin seekor katak yang bisa berbicara dapat hidup di darat dalam waktu yang lama. Ia hanya bisa bermain di air bersama katak lainnya sambil bernyanyi. Setelah sang putri berjanji, sang katak segera menyelam ke dalam telaga dan dalam waktu singkat ia kembali ke permukaan sambil membawa bola emas di mulutnya kemudian melemparkannya ke tanah.
Sang Putri merasa sangat senang karena bola emasnya ia dapatkan kembali. Sang Putri menangkap bola emasnya dan kemudian berlari pulang. “Tunggu… tunggu,” kata sang katak. “Bawa aku bersamamu, aku tidak dapat berlari secepat dirimu”. Tapi percuma saja sang katak berteriak memanggil sang putri, ia tetap berlari meninggalkan sang katak.  Sang katak merasa sangat sedih dan kembal ke telaga kembali. Keesokan harinya, ketika sang Putri sedang duduk bersama ayahnya sambil makan siang, terdengar suara lompatan ditangga marmer. Sesampainya di tangga paling atas, terdengar ketukan pintu dan tangisan,”Putri, putri… bukakan pintu untukku”. Sang putri bergegas menuju pintu. Tapi ketika ia membuka pintu, ternyata di hadapannya sudah ada sang katak. Karena kaget ia segera menutup pintu keras-keras. Ia kembali duduk di meja makan dan kelihatan ketakutan. Sang Raja yang melihat anaknya ketakutan bertanya pada putrinya,”Apa yang engkau takutkan putriku? Apakah ada raksasa yang akan membawamu pergi? “Bukan ayah, bukan seorang raksasa tapi seekor katak yang menjijikkan”, kata sang putri. “Apa yang ia inginkan dari?” tanya sang raja pada putrinya.
Kemudian sang putri bercerita kembali kejadian yang menimpanya kemarin. “Aku tidak pernah berpikir ia akan datang ke istana ini..”, kata sang Putri. Tidak berapa lama, terdengar ketukan di pintu lagi. “Putri…, putri, bukakan pintu untukku.  Apakah kau lupa dengan ucapan mu di telaga kemarin?” Akhirnya sang Raja berkata pada putrinya,”apa saja yang telah engkau janjikan haruslah ditepati. Ayo, bukakan pintu untuknya”. Dengan langkah yang berat, sang putri bungsu membuka pintu, lalu sang katak segera masuk dang mengikuti sang putri sampai ke meja makan. “Angkat aku dan biarkan duduk di sebelahmu”, kata sang katak. Atas perintah Raja, pengawal menyiapkan piring untuk katak di samping Putri Mary. Sang katak segera menyantap makanan di piring itu dengan menjulurkan lidahnya yang panjang. “Wah, benar-benar tidak punya aturan. Melihatnya saja membuat perasaanku tidak enak,” kata Putri Mary.
Sang Putri bergegas lari ke kamarnya. Kini ia merasa lega bisa melepaskan diri dari sang katak. Namun, tiba-tiba, ketika hendak membaringkan diri di tempat tidur…. “Kwoook!” ternyata sang katak sudah berada di atas tempat tidurnya. “Cukup katak! Meskipun aku sudah mengucapkan janji, tapi ini sudah keterlaluan!” Putri Mary sangat marah, lalu ia melemparkan katak itu ke lantai. Bruuk! Ajaib, tiba-tiba asap keluar dari tubuh katak. Dari dalam asap muncul seorang pangeran yang gagah. “Terima kasih Putri Mary… kau telah menyelamatkanku dari sihir seorang penyihir yang jahat. Karena kau telah melemparku, sihirnya lenyap dan aku kembali ke wujud semula.” Kata sang pangeran. “Maafkan aku karena telah mengingkari janji,” kata sang putri dengan penuh sesal. “Aku juga minta maaf. Aku sengaja membuatmu marah agar kau melemparkanku,” sahut sang Pangeran. Waktu berlalu begitu cepat. Akhirnya sang Pangeran dan Putri Mary mengikat janji setia dengan menikah dan merekapun hidup bahagia.
Pesan moral : Jangan pernah mempermainkan sebuah janji dan pikirkanlah dahulu janji-janji yang akan kita buat.

Rabu, 04 Mei 2011

sendirian dalam sepih

Kasih
mengapa ini harus terjadi
ketika cinta sedana mekar bersemi
kau pergi meninggalkan aku sendiri

kesedihan adalah teman bagiku kini
ketika tak ada lagi yang kucintai
nestapa menjadi sahabat sejati
hampanya hidupku ini

tapi aku telah pasrah,kasih
kau pergi menghadap tuhan
meninggalklan kenangan indah
sebagai teman dalam hidupku

Hanya TinggalHarapan

Adalah kenangan yang tersisa
ketika kau pergi meninggalkan aku
dalam putaran waktu yang tak menentu
bayang-bayangmu begitu menggelutiku

Adalah kenangan yang aku punya
wajahmu yang manis terus terbayang
dalam jiwaku yang tak pernah diam
dalam hatiku yang selalu berdo'a

Mengapa kau pergi juga -kasih
ketika hati dan cinta telah bersemi
dan keindahan menyebar dalam diri?

kepergianmu adalah kesedihanku
sebab aku tahu kau tak bakal kembali
kau biarkan aku seorang diri
harapan hanya tinggallah harapan

Sabtu, 19 Februari 2011

WAJAH MUTIARA KAGUYA

Gadis ayu bagai langit biru
rambut panjang tergerai indah
gaun putih di tubuh tampilan permata

Bidadari cahaya anggun
datang ke bumi menuai senyum
dari legenda bambu

Bunga sakura yang mekar
kecapi yang merdu mengalun
dari jemari lentik
dan kesunyian malam

Bidadari cinta
menantikan kasih seorang pemuda
bidadari pohon plum merah
yang datang saat mentari tenggelam
teratai putih yang bergoyang
perahu yang dikemudikan kasim
menelusuri sungai

bidadari merah
datang seiring irama orchestra
sonata piano sinar bulan beethoven
gubahan syair Reinhart Gustav Von Aschenb
mengucap mantra-mantra ajaib
menari dengan kimono berkibar tertiup angin

KOTAKU

Mencari cahaya putih di antara liku kehidupan
merabah ladang dunia dan pepohonan paku
malam seperti kudu-kuda liar
di bawah cahaya bulan dan bintang-bintang
putih bulu-bulunya,seperti salju turun di kota itu
sedangkan di sini bocah belasan tahun menahan perih
dan luka
sepanjang musim dingin ini
kemudian lenyap dalam refolusi

tinggal bahasa angin menyampaikan ke seluruh bumi
dan penduduk bumi hanya pandai berkata:
kematian begitu cinta padanya
mereka pun turut belasungkawan
cuaca buruk kota ini menjadikan ia sebagai kota mati

Jumat, 18 Februari 2011

SUBUH

Kalau subuh kudengar tabuh
semua sepi sunyi sekali
bulan seorang tertawa terang
bintang mutiara bermain cahaya
Terjaga aku tersentak duduk
terdengar irama panggilan jaya
naik gembira meremang roma
terlihat janji berkibar di muka
Seketika teralpan
masuk bisik hambusan setan
meredakan darah debur gemuruh
menjatuhkan kelopak mata terbuka
terbaring badanku tiada berkuasa
tertutup mataku berat semata
terbuka layar gelanggang angan
terusik hatiku di dalam kelam
tetapi hatiku,hati kecilku
tiada terlayang di awang dendang
menangis ia bersuara seni
ibakan panji tiada terdiri

(Nyanyian sunyi,Amir Hamjah)